Tampilkan postingan dengan label GenRe Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GenRe Indonesia. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2018

Apa Itu GenRe?? Kegiatan Capacity Building PIK R Madani Jilid 2

PEKANBARU- Pusat Informasi Konseling Madani Uin Suska Riau mengadakan
agenda capacity building (21/10) yang mana agenda ini diperuntukkan bagi
anggota baru yang ikut serta dalam open recruitment pengurus PIK MADANI
UIN SUSKA RIAU. Acara ini dilaksanakan di Aula MPI kampus UIN SUSKA
RIAU. Dalam acara ini diikuti sekitar 20 peserta dari berbagai jurusan yang ada di kampus UIN SUSKA RIAU.

Agenda capacity Building ini diadakan bertujuan untuk memberikan pengertian
dasar bagaimana PIK ini terbentuk, tujuan dari program PIK dan sejarah PIK
MADANI ini yang disampaikan langsung oleh kak Naufal Alwan Adillah selaku
ketua Forum GenRe Pekanbaru dan ketua PIK MADANI dan Kak Fania Frisca
Afindra selaku Duta GenRe Persahabatan 2018.

Agenda dilaksanakan mulai pukul 08.00 hingga 12.00 kemudian dilanjutkan
dengan Ishoma kemudian dilanjutkan lagi dengan interview oleh kak Naufal
Alwan Adillah dank an Rozan Zuhairi Harahap.

Harapan kak Naufal selaku ketua PIK Madani UIN SUSKA semoga kedepannya
dapat melaksanakan agenda-agenda yang lebih baik dan bersiap-siap bagi anggota
baru PIK MADANI untuk menggantikan posisi kepengurusan lama PIK
MADANI.

Salam GenRe !!!

(Rizqi Mardhatilah)

Senin, 22 Oktober 2018

PENGUMUMAN KELUSUSAN PUSAT INFORMASI KONSELING MADANI UIN SUSKA RIAU


1. UNIK SETIAWAN

2. ADE MAHARDIKA

3. ADE MAESA

4. WIWIT FEBRIANI

5. DALFAH RATNA DEWI

6. AFNLYA NIGSIH

7. DARLINGGA PRASTY

8. ROHANA

9. ARDHISTAWA

10. RAHMI RAHMA DANI

11. REZKI NABILAH

12. WINNE FEBRIANISA

13. NOLA BERLIANA PUTRI

14  DESY RAMA


SELAMAT BAGI KAMU YANG DITERIMA UNTUK MENJADI PENGURUS PUSAT INFORMASI KONSELING MADANI. SILAHKAN HUBUNGI NO DIBAWAH INI

>>>>> 0813-1462-4272<<<<<<

NAUFAL

Minggu, 23 September 2018

Ramadhan bersama adik-adik SD Cerdas


Ramadhan merupakan bulan ampunan dimana pintu rahmad dan karunia terbuka lebar bulan dimana semua umat islam diwajibkan untuk berpuasa, karena puasa merupakan salah satu Rukun Islam (Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Berhaji), jadi jika ada orang islam yang tidak berpuasa, maka wajib dipertanyakan status keislamannya.Puasa adalah ibadah kepada Allah ta’ala dengan menahan diri dari makan minum dan segala sesuatu yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari ibadah puasa mensucikan dan membersihkan jiwa dari segala perbuatan dan perkataan yang tercela tubuh kita juga menjadi sehat selain itu juga diikuti oleh amal-amalan lain seperti zakat .




Beberapa waktu lalu PIK Madani mengadakan bakti sosial dan buka puasa bersama dengan adik-adik di SD Cerdas yaitu PKPLK POKJAR Sukajadi SD Induk SDN 79 Pekanbaru , dimana dalam kegiatan ini sebelum berbuka puasa kita PIK Madani tidak hanya turut aktif dalam membersihkan sekolah saja looh teman-teman, tapi kita juga mengadakan games dan materi terkait remaja dalam persiapan menggapai cita-cita mereka kelak, adik-adik tersebut antusias dalam mengutarakan cita-cita mereka loh guys dan kakak-kakak madani bergantian memberikan motifasi kepada mereka agar mereka semakin percaya diri dalam menggapai cita-cita mereka kedepannya. Selain itu kita mengadakan games dari hapalan surat, lomba salam GenRe, Makna salam GenRe. bermcam hadiah mereka dapatkan mulai dari tas, tempat minum, buku dan masih banyak lagi, kegiatan ini dihadri lansung oleh Ibu Guru SD Cerdas dan keseluruhan peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 43 orang.


Tak terasa nihh beberapa saat lagi azan Magrib mulai berkumandang dan langitpun mulai gelap, kita bersiap-siap untuk berbuka puasa dan adik-adik pun mulai mempersiapkan dirinya untuk duduk diposisinya untuk buka puasa dan membaca doa berbuka puasa secara bersama-sama, kegiatan ini berjalan dengan lancer dan diakhir sesi dilakukannya foto bersama dan pemberian cindramata kepada sekolah.
Admin PIK R MADANI: Naufal Alwan Adilah

Minggu, 26 Agustus 2018

Riau Youth Camp 2018


                PEKANBARU- Riau Youth Camp 2018 adalah salah satu kegiatan perdana dalam memperingati Hari Remaja Internasional yakni pada tanggal 12 agustus 2018  yang di laksanakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) yang mana kegiatan ini berlokasi di kantor BKKBN jalan Terubuk  no 1 Pekanbaru .

                Kegiatan yang menyertakan para remaja  dari berbagai kalangan yakni Siswa SMP—SMA , Mahasiswa,  utusan dari PIK R,Organisasi dan komunitas lainya yang ikut barpartipasi dalam kegiatan ini  membuat suau kebanggan sendiri bagi Kepala Perwakilan BKKBN  Provinsi Riau “ Terima kasih kepada peserta yang telah hadir ikut serta dalam berkegiatan positip untuk beberapa hari kedepan “ ujarnya pada malam pertama Riau Youth Camp saat memulai memberikan materi. (10/08/2018)

                Kegiatan Riau Youth Camp 2018 ini berjalan selama 3 hari 2 malam (10-12) dengan jadwal peserta yang dipadati dengan kegiatan posititif dan bermanfaat seperti  Materi,game yang melatih kekompakan ,hiking dan keseruan lainya. Peserta bangun pagi sekali untuk memulai aktivitasnya dan istirahat didalam tenda yang berlokasikan dihalaman kantor BKKBN.


                ‘’ Seru dan bagus kegiatan nya apalagi kan pas akhir weekend jadi kalau remaja ada kegiatan seperti ini lebih bermanfaat sedangkan biasanya remaja malah nongkrong dan jalan sana sini, sangat bermanfaat dan harapan nya sih ya lembaga sering mengikutsertakan remaja khususnya kegiatan positif seperti ini’ujar Haibah Sakdiah PIK Madani Uin Suska Riau (12/08/2018) -Haibah Sakdiah




PIK REMAJA MADANI Mengadakan Capacity Building 2018




            PEKANBARU – Capacity Building atau ( Pengembangan Kapasitas ) adalah proses dimana individu dan organisasi memperoleh, meningkatkan dan mempertahankan keterampilan, pengetahuan, peralatan – peralatan sumber daya lain yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka secara kompeten atau untuk kapasitas yang lebih besar sehingga sebuah organisasi bisa dan lebih mampu bergerak sesuai dengan dipoksinya masing-masing.

            Berbicara tentang Capacity Building beberapa saat yang lalu kita PIK R Madani mengadakan Capacity Building dan diikuti oleh anggota PIK R Madani dan saat itu kita juga mengundang ketua PIK dan anggota PIK Sebelumnya yaitu kak Ilham, kak Khairil Anan, Kak Tiyas dan Kak Evan. kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 12 May 2018 di AULA MPI dan berdekatan dengan Secretariat PIK R Madani.

            Di Capacity Building ini kita turut menghadirkan Pembina PIK R Madani ada Ibu Raja Rahima Munawaroh Raja Ahmad, M.Pd, Kons. Yang juga memberi materi tentang Konselor Sebaya atau menjadi konselor dalam program GenRe dan kita juga turut mengundang Kakak Rizky Mahardhika selaku Duta GenRe Provinsi Riau yang juga memberikan kita banyak materi serta pengetahuan yang banyak terkait PIK Remaja, GenRe, Pendidik Sebaya, Public Speaking dengan metode Word Café , HIV dan AIDS, 8 Fungsi Keluarga, ke organisasian dan masih banyak lagi. tentunya dengan keseruan dan kebahagiaan sebagai remaja terencana nantinya. kegiatan ini di tutup dengan program kegiatan tindak lanjut dengan selesainya kegiatan capacity building ini yaitu membuat satu program kegiatan dibulan ramadhan dan rancangan kegiatan langsung.

            Diharapkan kedepannya dengan dilaksanakan kegiatan Capacity Building ini dapat memberikan semangat dan motivasi kepada teman-teman semua agar kedepanya kader PIK R Madani lebih memahami dan mengerti tentang tugasnya sebagai kader PIK R, meliputi Konselor Sebaya, Pendidik Sebaya, HUMAS, KIE, PSDM dan juga terkait dengan materi-materi pengetahuan yang ada didalamya untuk dapat di sampaikan informasinya kepada teman-teman sebaya, masyarakat dan diterapkan dikehidupan sehari-hari. (08-25-2018 Naufal A.A)
           

Senin, 27 Maret 2017

Solution Focused Brief Counseling

SFBC (Solution Focus Brief Counseling)


  1. NAMA PENDEKATAN
Nama pendekatan konseling ini adalah Solution Focus Brief Counseling. Konseling ini selanjutnya disingkat SFBC,  adalah suatu konseling singkat yang dibangun atas potensi konseli yang sebenarnya mampu mengkonstruksi solusi dari masalahnya.

  1. SEJARAH PERKEMBANGAN
SFBC merupakan salah satu teknik konseling pendekatan postmodern. Tumbuh dari orientasi terapi strategis di lembaga penelitian jiwa, SFBC menggeser fokus dari penyelesaian masalah untuk fokus pada solusi lengkap.
Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg memulai pergeseran ini di pusat terapi singkat di Milwaukee pada akhir tahun 1970an. Setelah tumbuh tidak puas dengan kendala dari model strategis, pada tahun 1980an de Shazer berkolaborasi dengan sejumlah terapis, termasuk Eve Lipchik, John Walter, Jane Peller, Michelle Weiner-Davis, dan Bill O’Hanlon, yang masing-masing menulis secara ekstensif tentang SFBC dan memulai SFBC di lembaga pelatihan  mereka. Baik O’Hanlon dan Weiner-Davis terpengaruh oleh karya asli de Shazer, namun mereka memperluas dasar ini dan menciptakan apa yang mereka sebut Solution – Oriented therapy. Dalam  bab ini ketika didiskusikan solution-focused brief therapy, solution-focused therapy, dan solution-oriented therapy, lebih difokuskan pada kesamaan pendekatan ini daripada melihat perbedaannya.
Dua pendiri utama SFBC yaitu INSOO KIM BERG : Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER : salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
SFBC berbeda dengan dari terapi tradisional dengan mengulas masa lalu dalam mendukung baik saat ini maupun masa depan. Konselor fokus pada apa yang mungkin, dan mereka kurang tertarik dalam  mengeksplorasi masalah. De Shazer mengatakan bahwa tidak perlu mengetahui penyebab masalah untuk menyelesaikannya dan tidak perlu menghubungkan antara penyebab masalah denga solusi. Pengumpulan informasi mengenai masalah tidak dibutuhkan dalam mengubah hal yang terjadi.
Jika mengetahui dan memahami masalah itu tidak penting, maka selanjtnya adalah mencari solusi yang benar. Setiap orang mungkin mempertimbangkan banyak solusi, dan apa yang benar bagi seseorang bisa jadi tidak benar menurut orang lain. dalam SFBC, konseli memilih tujuan  penyelesaian yang mereka harapkan, dan sedikit perhatian dalam memberikan diagnosis, pembicaraan masa lalu, atau eksplorasi masalah.
SFBC dibangun atas dasar asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dengan optimal. Asumsi pokok dalam SFBC ini bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan hidup, walaupun kadang-kadang kita mungkin kehilangan arah atau kesadaran tentang kemampuan kita. Tanpa memperhatikan apa yang dibentuk konseli ketika mereka memulai konseling, Berg percaya konseli kompeten dan tugas konselor adalah untuk membantu konseli mengenali kompetensi yang mereka miliki. Esensi dari konseling ini adalah melibatkan konseli dalam membangun harapan dan optimis dengan membuat ekspektasi positif dalam kemungkinan perubahan. SFBC adalah pendekatan non patologis yang menekankan kompetensi dari pada kekurangan, dan kekuatan dari pada kelemahan. Model SFBC membutuhkan sikap filosofis dalam  menerima konseli dimana mereka dibantu dalam membuat solusi. O’ Hanlon mendeskripsikan  orientasi positif : “ menumbuhkan solusi – meningkatkan kehidupan manusia dari pada fokus  pada bagian-bagian patologi masalah dan perubahan menakjubkan dapat terjadi sangat cepat”. Karena konseli sering datang ke konseling dengan  pernyataan “ orientasi masalah”, bahkan sedikit solusi yang mereka pertimbangkan bersampul dalam kekuatan orientasi masalah. Konseli sering memiliki cerita yang berakar dalam sebuah pandangan yang menentukan apa yang terjadi di masa lalu pasti akan membentuk masa depan mereka. Konselor SFBC menentang pernyataan konseli dengan percakapan optimis yang menyoroti keyakinan mereka dalam pencapaian , menggunakan tujuan dari berbagai sudut. Konselor dapat menjadi penolong dalam  membantu konseli membuat pergeseran dari pernyataan masalah ke kondisi dengan kemungkinan-kemungkinan baru.  Konselor dapat mendorong dan menantang konseli untuk menulis cerita yang berbeda yang dapat menyebabkan akhir yang baru.

  1. HAKIKAT MANUSIA
Konseling berfokus solusi tidak mempunyai pandangan komprehensif tentang sifat manusia, tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan konseli. Konseling berfokus solusi menganggap manusia bersifat konstruktivis. Sehingga, konseling berfokus solusi didasarkan pada asumsi bahwa manusia benar-benar ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan.





  1. PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      STRUKTUR KEPRIBADIAN
Struktur  kepribadian manusia berdasarkan teori SFBC adalah sebagai berikut:
a.       SFBC tidak menggunakan teori kepribadian dan psikopatologi yang ada saat ini
b.      Konselor tidak bisa memahami secara pasti tentang penyebab masalah individu
c.       Konselor perlu tahu apa yang membuat orang memasuki masa depan yang lebih baik dan sehat, yaitu tujuan yang lebih baik dan sehat
d.      Individu tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi bisa mengubah tujuannya
e.       Tujuan yang lebih baik dapat mengatasi masalah dan mengantarkan masa depan yang lebih produktif
f.       Konselor perlu mengetahui karakteristik tujuan konseling yang baik dan produktif, proses positif, saat ini, praktis, spesifik, kendali konseli dan bahasa konseli
g.      Sebagai ganti teori kepribadian dan psikopatologi, masalah dan masa lalu, SFBC berfokus pada saat ini yang dipandu oleh tujuan positif  yang spesifik yang dibangun berdasarkan bahasa konseli dan dibawah kendalinya.

2.      PRIBADI SEHAT DAN BERMASALAH
Pribadi sehat berdasarkan teori SFBC adalah:
a.       Manusia pada dasarnya kompeten, memiliki kapasitas untuk membangun, merancang/ merekonstruksikan solusi-solusi sehingga mampu menyelesaikan masalahnya
b.      Tidak berkutat pada masalah, tetapi fokus pada solusi dan bertindak mewujudkan solusi yang diinginkan



Pribadi bermasalah menurut SFBC adalah:
a.       Mengkonstruk kelemahan diri. Dengan cara mengkonstruk cerita yang diberi label “masalah” dan meyakini bahwa ketidakbahagiaan berpangkal pada dirinya.
b.      Berkutat pada masalah dan merasa tidak mampu  menggunakan solusi yang dibuatnya.

  1. HAKIKAT KONSELING
Walter dan Peller berpikir mengenai konseling berfokus solusi sebagai model yang menerangkan bagaimana orang berubah dan bagaimana mereka dapat meraih tujuan mereka. Berikut ini beberapa asumsi dasar SFBC:
1.      Individu-individu yang datang konseling telah mempunyai kemampuan berperilaku efektif, meskipun keefektifan tersebut mungkin untuk sementara terhambat oleh pikiran negatif. Pikiran berfokus masalah mencegah orang dari mengenali cara efektif mereka dalam menangani masalah
2.      Ada  keuntungan untuk fokus positif pada solusi dan di masa depan. Jika konseli dapat mereorientasi diri mereka dengan mengarahkan kekuatan mereka menggunakan “ solution –talk” , merupakan suatu kesempatan bagus dalam konseling singkat
3.      Proses konseling diorientasikan pada peningkatan kesadaran eksepsi (harapan-harapan yang  menyenangkan) terhadap pola masalah yang dialami dan pemilihan proses perubahan
4.      Konseli sering mengatakan satu sisi dari diri mereka. SFBC mengajak konseli untuk memerika sisi lain dari cerita hidupnya yang disampaikan.
5.      Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan besar. Seringkali, perubahan kecil adalah semua yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dibawa konseli ke konseling
6.      Konseli ingin berubah, memiliki kemampuan untuk berubah, dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi. Konseli harus mengambil sikap kooperatif dengan konseli daripada merancang strategi sendiri untuk mengendalikan  hambatan. Ketika konselo mencari cara untuk kooperatif dengan konseli, maka perlawanan/ resistensi tidak akan terjadi.
7.      Konseli bisa percaya pada niat mereka untuk menyelesaikan masalah mereka. Tidak ada solusi yang “benar” untuk masalah spesifik yang dapat diaplikasikan pada semua orang. Setiap individu unik dan begitu juga pada setiap penyelesaian masalahnya.

  1. KONDISI PENGUBAHAN
Bertolino dan O’Hanlon  menekankan pentingnya membuat kolaborasi  hubungan terapeutik  dan  perlu dilakukan untuk keberhasilan konseling. Diakui bahwa konselor memiliki keahlian dalam  menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa konseli adalah ahli dalam kehidupan mereka dan sering memiliki perasaan yang bagus tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan di masa lalu dan begitu juga apa yang mungkin dilakukan di masa depan. SFBC mengasumsikan  pendekatan kolaboratif dengan konseli berbeda dengan sikap edukatif yang biasanya dikaitkan dengan model terapi tradisional. Jika konseli terlibat dalam proses terapeutik dari awal sampai akhir, perubahan  meningkat sehingga konseling akan sangat berhasil. Singkatnya, hubungan kolaborasi dan kooperatif  cenderung lebih efektif dari pada hubungan hierarki dalam konseling.

1.      TUJUAN
SFBC menawarkan beberapa bentuk tujuan:
-          Mengubah cara pandang situasi atau kerangka pikir
-          Mengubah situasi masalah dan menekankan pada kekuatan dan sumber daya konseli
-          Konseli didorong untuk terlibat dalam perubahan atau “ solution talk”, dari pada “problem talk” dengan asumsi bahwa apa yang dibicarakan adalah sebagian besar apa yang akan dihasilkan
-          Berbicara tentang perubahan dapat menghasilkan perubahan. Secepat individu belajar untuk berbicara dalam  istilah kemampuan  dan  kompetensi mereka, apa sumber daya dan kekuatan yang mereka miliki, dan apa yang siap mereka lakukan  dan mengerjakannya, mereka dapat mencapai hal utama dalam konseling.

2.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELOR
-          Mengidentifikasi dan memandu konseli mengeksplorasi kekuatan-kekuatan dan kompetensi yang dimiliki konseli
-          Membantu konseli mengenali dan membangun perkecualian-perkecualian pada masalah, yaitu saat-saat ketika konseli telah melakukan (memikirkan, merasakan) sesuatu yang mengurangi atau membatasi dampak masalah
-          Melibatkan konseli untuk berpikir tentang masa depan mereka dan apa yang mereka inginkan yang berbeda di masa depan
-          Konselor mengambil posisi “ tidak mengetahui” untuk meletakkan konseli pada posisi sebagai ahli mengenai kehidupan mereka sendiri. Konselor tidak mengasumsikan diri sebagai ahli yang mengetahui tindakan dan pengalaman konseli
-          Membantu konseli dalam mengarahkan perubahan tetapi tidak mendikte konseli apa yang ingin diubah
-          Konselor berusaha membentuk hubungan yang kolaboratif dan menciptakan suatu iklim yang respek, saling menghargai dan membangun suatu dialog yang bisa menggali konseli untuk mengembangkan kisah-kisah yang mereka pahami dan hayati dalam kehidupan mereka
-          Konsisten dalam membantu konseli berimajinasi bagaimana mereka menginginkan hal yang berbeda dan apa yang akan dilakukan untuk membawa perubahan tersebut terjadi dengan menanyakan “ apa yang Anda inginkan dari datang kesini?”, “apa yang akan membuat perbedaan untukmu?” dan “ apa kemungkinan-kemungkinan yang Anda tandai bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?.

3.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELI
-          Mau dan mampu berkolaborasi dengan konselor
-          Aktif terlibat dalam  proses konseling
-          Memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah

  1. MEKANISME PENGUBAHAN
1.      TAHAP-TAHAP KONSELING
a.      Establishing rapport. Yaitu pembentukan hubungan baik agar proses konseling berjalan lancar seperti yang diharapkan. Agar tercipta iklim yang kolaboratif antara konselor dengan konseli.
b.      Identifying a solvable complaint. Yaitu mengidentifikasi keluhan-keluhan yang akan dipecahkan.
c.       Establishing goals atau menetapkan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling.
d.      Deigning an intervention atau merancang intervensi
e.       Strategic task  that promote change. Yaitu tugas tertentu yang diberikan oleh konselor untuk mendorong perubahan. Misalnya dengan meminta konseli untuk mengamati  dengan mengatakan:” antara sekarang dan waktu mendatang kita bertemu, saya meminta anda untuk mengamati, sehingga Anda dapat menggambarkan pada saya pada pertemuan mendatang, apa yang terjadi di kehidupan Anda yang Anda inginkan terjadi secara berkelanjutan”.  Penugasan tersebut mendorong konseli bahwa perubahan yang diinginkan pasti terjadi dan tidak terelakkan. Hal tersebut sangat penting dipahami sebelum mereka memulai merancang perubahan.
f.        Identifying & emphazing new behavior & changes. Yaitu mengidentifikasi dan menguatkan perilaku baru dan perubahan.
g.      Stabilization atau stabilisasi
h.      Termination. Pada tahap terminasi, ciri-ciri pertanyaan yang diajukan konselor untuk mengidentifikasi keberhasilan knseling yaitu: “ apa hal berbeda yang diperlukan dalam hidup Anda yang dihasilkan dengan datang kemari sehingga Anda mengatakan bahwa pertemuan kita bermanfaat?”, dan “ ketika masalah Anda teratasi, hal berbeda apa yang akan Anda lakukan?”.

2.      TEKNIK-TEKNIK KONSELING
·         Exeption-Finding Questions : Pertanyaan tentang saat-saat dimana konseli bebas dari masalah. SFBT didasarkan pada gagasan dimana ada saat-saat dalam hidup konseli ketika masalah yang mereka identifikasi tidak bermasalah. Waktu tersebut disebut pengecualian dan disebut “ news of difference”. Konselor SFBC mengajukan ask exeption question untuk menempatkan konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau ketika masalah yang ada tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman hidup konseli di masa lalu ketika dimungkinkan  masalah tersebut masuk akal terjadi, tetapi entah bagaimana hal itu tidak terjadi. Dengan membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa pengecualian tersebut kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju solusi. Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat dan  ada selamanya; juga menyediakan kesempatan untuk meningkatkan sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan  menempatkan solusi yang mungkin. Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan agar pengecualian ini lebih sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini disebut “change-talk”.
  Miracle Questions : Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan terjadi jika suatu masalah dialami secara ajaib terselesaikan. Konselor menanyakan “ jika suatu keajaiban terjadi dan masalah Anda terpecahkan dalam waktu semalam, bagaimana Anda tahu bahwa masalah tersebut terselesaikan, dan apa yang akan berbeda?”. Konseli kemudian terdorong untuk menegaskan apa yang mereka inginkan agar merasa lebih percaya diri dan aman, konselor bisa mengatakan: “ biarkan dirimu berimajinasi bahwa kamu meninggalkan kantor hari ini dan kamu dalam  rel untuk bertindak lebih percaya diri dan aman. Hal berbeda apa yang akan kamu lakukan?”. Mengubah hal yang dilakukann dan cara pandang terhadap masalah  mengubah masalah tersebut. Meminta konseli untuk mempertimbangkan keajaiban tersebut dapat membuka celah kemungkinan di masa depan. Konseli didorong untuk mengikuti mimpinya sebagai cara dalam mengidentifikasi perubahan apa saja yang paling ingin mereka lihat. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan bahwa konseli dapat mulai  mempertimbangkan hal yang berbeda dalam hidupnya yang tidak didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan  dari masa lalu dan masalah saat ini menuju kehidupan yang lebih memuaskan di masa depan.
  Scaling Questions : Pertanyaan yang meminta konseli menilai kondisi dirinya (masalah, pencapaian tujuan) berdasarkan skala 1-10. Konselor SFBC juga menggunakan teknik ini ketika mengubah pengalaman konseli yang tidak mudah diobservasi, seperti perasaan, keinginan atau komunikasi. Sebagai contoh, seorang perempuan mengatakan bahwa dia merasa panik atau cemas, bisa ditanyakan:” pada skala 0-10, dengan 0 adalah apa yang Anda rasakan ketika Anda pertama kali datang konseling dan 10 sebagai perasaan Anda hari ini setelah keajaiban terjadi dan  masalah Anda teratasi, bagaimana Anda menyatakan  skala kecemasan Anda sekarang?”. Bahkan jika konseli hanya berkembang dari 0 ke 1, dia telah berkembang. Bagaimana dia melakukan itu? Apa yang dia perlukan untuk meningkatkan skala? Pertanyaan skala memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah yang akan memandu perubahan yang mereka inginkan.
  Coping Questions : Pertanyaan yang meminta konseli mengemukakan pengalaman sukses dalam menangani masalah yang dihadapi.
  Compliments : Pesan tertulis yang dirancang untuk memuji konseli atas kelebihan, kemajuan, dan karakteristik positif bagi pencapaian tujuannya. 

  1. HASIL-HASIL PENELITIAN
Penelitian SFBC telah dilakukan oleh Mulawarman dengan judul Penerapan SFBT untuk meningkatkan harga diri siswa (self esteem) suatu embedded experimental design. Hasil penelitian dilihat dari hasil secara kuantitatif ditemukan perbedaan tingkat self esteem siswa sebelum mendapatkan intervensi SFBT dengan menggunakan Wilcoxon signed rank test, dimana nilai tersebut adalah 2, 207. Pada sisi kualitatif dengan berdasarkan pada hasil analisis percakapan ditemukan bahwa harga diri rendah berubah menjadi harga diri tinggi.

  1. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
1.      KELEBIHAN
a.       Pendekatan  ini menekankan pada singkatnya waktu konseling
b.      Pendekatan ini fleksibel dan mempunyai banyak riset yang membuktikan keefektifannya
c.       Pendekatan ini bersifat positif untuk digunakan dengan konseli yang berbeda-beda. Maksudnya, teori konseing ini didasarkan pada asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi dalam meningkatkan kualitas hidup mereka dengan optimal.
d.      Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran yang menekankan perubahan kecil pada tingkah laku
e.       Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan konseling lainnya
2.      KELEMAHAN
a.       Pendekatan ini hampir tidak memperhatikan riwayat konseli
b.      Pendekatan ini kurang memfokuskan pencerahan
c.       Pendekatan  ini menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi, sehingga membuat perawatan ini mahal

  1. SUMBER RUJUKAN
Corey, Gerald. 2009.Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy Eigh Edition. USA: Thomson Higher education
Palmer, Stephen. 2011.  Introduction to Counselling and Psychotherapy (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gladding, Samuel T. 2012. Counseling a Comprehensive Profession, sixth edition (terjemahan). Jakarta Barat: PT Indeks

REBT (Rational Emotive Behavior Therapy)

REBT (Rational Emotive Behavior Therapy)




A.    NAMA PENDEKATAN
RATIONAL EMOTIVE BAHVIOR THERAPY

B.     SEJARAH PERKEMBANGAN
Rasional Emotive Behavior Therapy (REBT) sebelumnya disebut rational therapy dan rational emotive therapy, merupakan terapi yang komprehensif, aktif-direktif, filosofis dan empiris berdasarkan psikoterapi yang berfokus pada penyelesaian masalah-masalah gangguan emosional dan perilaku, serta menghantarkan individu untuk lebih bahagia dan hidup yang lebih bermakna (fulfilling lives). REBT diciptakan dan dikembangkan oleh Albert Ellis (1950an), seorang psikoterapis yang terinspirasi oleh ajaran-ajaran filsuf Asia, Yunani, Romawi dan modern yang lebih mengarah pada teori belajar kognitif. Asal-usul terapi rasional-emotif dapat ditelusuri dengan filosofi dari Stoicisme di Yunani kuno yang membedakan tindakan dari interpretasinya. Epictetus dan Marcus Aurelius dalam bukunya “The Enchiridion”, menyatakan bahwa manusia tidak begitu banyak dipengaruhi oleh apa yang terjadi pada dirinya, melainkan bagaimana manusia memandang/menafsirkan apa yang terjadi pada dirinya (People are not disturbed by things, but by the view they take of them). Pada mulanya Ellis menggunakan psikoanalisis dan person-centered therapy dalam proses terapi, namun ia merasa kurang puas dengan pendekatan dan hipotesis tingkah laku klien yang dipengaruhi oleh sikap dan persepsi mereka. Hal inilah yang memotiviasi Ellis mengembangkan pendekatan rational emotive dalam psikoterapi yang ia percaya dapat lebih efektif dan efisien dalam memberikan efek terapeutik. Ellis mengembangkan teori A-B-C, dan kemudian dimodifikasi menjadi pendekatan A-B-C-D-E-F yang digunakan untuk memahami kepribadian dan untuk mengubah kepribadian secara efektif. Pada tahun 1990-an, Ellis mengganti nama pendekatan tersebut dengan Rasional Emotive Behavior Therapy atau yang biasa kita singkat menjadi REBT. Sampai saat ini, REBT merupakan salah satu bagian dari cognitive behavior therapy (CBT).

C.    HAKIKAT MANUSIA
Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapi (REBT) memandang manusia sebagai individu yang didominasi oleh sistem berfikir dan sistem perasaan yang berkaitan dalam sistem psikis individu. Keberfungsian individu secara psikologis ditentukan oleh fikiran, perasaan dan tingkah laku. Tiga aspek ini saling berkaitan karena satu aspek mempengaruhi aspek lainnya.
Secara khusus, pendekatan ini berasumsi bahwa individu memiliki karakteristik sebagai berikut:
1.      Individu memiliki potensi yang unik untuk berfikir rasional dan irrasional.
2.      Pikiran irasional berasal dari proses belajar, yang irasional didapat dari orangtua dan budayanya.
3.      Manusia adalah makhluk verbal dan berfikir melalui simbol dan bahasa. Dengan demikian, gangguan emosional yang dialami individu disebabkan oleh verbalisasi ide dan pemikiran irrasional
4.      Gangguan(self verbalising) yang terus menerus emosional yang disebabkan oleh verbalisasi dan persepsi serta sikap terhadap kejadian merupakan akar permasalahan, bukan karena kejadian itu sendiri.
5.      Individu memiliki potensi untuk mengubah arah hidup personal dan sosialnya.
6.      Pikiran dan perasaan yang negatif dan merusak diri dapat diserang denganmengorganisasikan kembali persepsi dan pemikiran, sehingga menjadi logis dan rasional.

Secara dialektik, REBT berasumsi bahwa berfikir logis itu tudak mudah, kebanyakan individu cenderung ahli dalam berfikir tidak logis. Contoh berfikir tidak logis biasanya banyak menguasai individu adalah:
·         Saya harus sempurna
·         Saya baru saja melakukan kesalahan, bodoh sekali!
·         Ini adalah bukti bahwa saya tidak sempurna, maka saya tidak berguna.
Secara sistem nilai, terdapat dua nilai eksplisit yang biasanya dipegang oleh individu namun tidak sering diverbalkan, yaitu (1) nilai untuk bertahan hidup (survival) dan (2) nilai kesenangan (enjoyment). Kedua nilai ini didesain oleh individu agar ia dapat hidup lebih panjang, menetralisir stress emosional dan tingkah laku yang merusak diri, serta mengaktualisasikan diri sehingga individu dapat hidup dengan penuh bahagia.
Meskipun teori ini tidak membahas tahap perkembangan individu, pendapat REBT bahwa anak-anak paling gampang terkena pengaruh dari luar dan memiliki cara berfikir yang tidak rasional daripada orang dewasa. Pada dasarnya,mausia itu naif, mudah disugesti, dan mudah terusik. Secara keseluruhan orang mempunyai kemampuan dalam dirinya sendiri untuk mengontrol pikiran, perasaan dan tindakan, tetapi pertama-tama dia harus menyadari apa yang mereka katakan pada diri sendiri (bicara pada diri sendiri) untuk mendapatkan atas kehidupannya.
Ellis mengidentifikasi sebelas keyakinan irrasional individu yang dapat mengakibatkan masalah, yaitu:
1.      Saya yakin harus dicintai atau disetujui oleh hampir setipa orang dimana saya menjalin kontak.
2.      Saya yakin mestinya harus benar-benar kompeten, adekuat dan mencapai satu tingkat penghargaan yang diakui seutuhnya.
3.      Beberapa orang berwatak buruk, jahat dan kejam, karena itu mereka layak disalahkan dan dihukum.
4.      Menjadi sebuah bencana besar ketika suatu hal terjadi seperti yang tidak pernah saya inginkan.
5.      Ketidakbahagiaan disebabkan oleh situasi tertentu yang berada diluar kemampuan saya mengendalikannya.
6.      Hal-hal yang berbahaya atau menakutkan adalah sumber terbesar kekhawatiran, dan saya harus mewaspadai potensi destruktifnya.
7.      Lebih mudah menghindari kesulitan dan tanggung jawab tertentu ketimbang menghadapinya.
8.      Saya meatinya bergantung pada beberapa hal dan orang lain, dan mestinya memiliki orang-orang yang sungguh bisa diandalkan untuk memperhatikan saya.
9.      Pengalaman dan kejadian masa lalu menentukan perilaku saya saat ini; pengaruh masa lalu tidak pernah bisa dihapus.
10.  Saya mestinya cukup kesal terhadap problem dan gangguan yang ditimbulkan orang lain.
11.  Selalu terdapat solusi benar atau sempurna untuk setiap problem, dan itu mestinya bisa ditemukan, atau problemnya tidak akan pernah selesai hingga tuntas.
12.   
D.    PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      STRUKTUR KEPRIBADIAN
Pandangan pendekatan rasional emotif tentang kepribadian dapat dikaji dari konsep-konsep kunci teori Albert Ellis : ada tiga pilar yang membangun tingkah laku individu, yaitu Activating event (A), Belief (B), dan Emotional consequence (C). Kerangka pilar ini yang kemudian dikenal dengan konsep atau teori ABC.

Activating event (A) yaitu segenap peristiwa luar yang dialami atau memapar individu. Peristiwa pendahulu yang berupa fakta, kejadian, tingkah laku, atau sikap orang lain. Perceraian suatu keluarga, kelulusan bagi siswa, dan seleksi masuk bagi calon karyawan merupakan antecendent event bagi seseorang.
Belief (B) yaitu keyakinan, pandangan, nilai, atau verbalisasi diri individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan seseorang ada dua macam, yaitu keyakinan yang rasional (rational belief atau rB) dan keyakinan yang tidak rasional (irrasional belief atau iB). Keyakinan yang rasional merupakan cara berpikir atau sistem keyakinan yang tepat, masuk akal, bijaksana, dan karena itu menjadi produktif. Keyakinan yang tidak rasional merupakan keyakinan atau sistem berpikir seseorang yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan karena itu tidak produktif.
Emotional consequence (C) merupakan konsekuensi emosional sebagai akibat atau reaksi individu dalam bentuk perasaan senang atau hambatan emosi dalam hubungannya dengan antecendent event (A). Konsekuensi emosional ini bukan akibat langsung dari A tetapi disebabkan oleh beberapa variable antara dalam bentuk keyakinan (B) baik yang rB maupun yang iB.
Disputing (D), terdapat tiga bagian dalam tahap disputing, yaitu:
1) Detecting irrational beliefs
Konselor menemukan keyakinan klien yang irasional dan membantu klien untuk menemukan keyakinan irasionalnya melalui persepsinya sendiri.
2) Discriminating irrational beliefs
Biasanya keyakinan irasional diungkapkan dengan kata-kata: harus, pokoknya atau tuntutan-tuntutan lain yang tidak realistik. Membantu klien untuk mengetahui mana keyakinan yang rasional dan yang tidak rasional.
3) Debating irrational beliefs
Beberapa strategi yang dapat digunakan:
The lecture (mini-lecture), memberikan penjelasan.
Socratic debate, mengajak klien untuk beradu argumen.
Humor, creativity seperti: cerita, metaphors, dll.
Self-disclosure: keterbukaan konselor tentang dirinya (kisah konselor, dll)

2.      PRIBADI SEHAT DAN BERMASALAH
a.       Pribadi Sehat
Individu yang dapat berpikir secara rasional dalam menanggapi setiap rangsangan terhadap dirinya.
b.      Pribadi Bermasalah
Dalam perspektif pendekatan konseling rasional emotif tingkah laku bermasalah adalah merupakan tingkah laku yang didasarkan pada cara berpikir yang irrasional. Terdapat tujuh faktor yang dapat digunakan untuk mendeteksi pikiran irasional, yaitu:
1.      Lihat pada generalisasi yang berlebihan (overgeneralization)
2.      Lihat pada distorsi (distortion)
3.      Lihat pada hal-hal yang dihapus (deletion)
4.      Lihat pada hal-hal yang dianggap tragedi atau bencana (catastrophising)
5.      Lihat pada penggunaan kata-kata absolut
6.      Lihat pada pernyataan yang menunjukkan ketidaksetujuan terhadap sesuatu atau seseorang yang konseli pikir mereka tidak dapat menahannya.
7.      Lihat pada ramalan atau prediksi masa depan.

E.     HAKIKAT KONSELING
Konseling rasional emotif dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang secara khusus dimaksudkan untuk mengubah tingkah laku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama oleh konselor dan klien. Karakteristik Proses Konseling Rasional-Emotif :
1.   Aktif-direktif, artinya bahwa dalam hubungan konseling konselor lebih aktif membantu mengarahkan klien dalam menghadapi dan memecahkan masalahnya.
2.    Kognitif-eksperiensial, artinya bahwa hubungan yang dibentuk berfokus pada aspek kognitif dari klien dan berintikan pemecahan masalah yang rasional.
3.   Emotif-ekspreriensial, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan juga memfokuskan pada aspek emosi klien dengan mempelajari sumber-sumber gangguan emosional, sekaligus membongkar akar-akar keyakinan yang keliru yang mendasari gangguan tersebut.
4.   Behavioristik, artinya bahwa hubungan konseling yang dikembangkan hendaknya menyentuh dan mendorong terjadinya perubahan tingkah laku klien.

F.     KONDISI PENGUBAHAN
1.      TUJUAN
Tujuan utama REBT berfokus pada membantu konseli untuk menyadari bahwa mereka dapat hidup rasional dan produktif. REBT membatu konseli agar berhenti  membuat tuntutan dan merasa kecal melalui kekacauan, konseli dalam REBT dapat mrngekspresikan beberapa perasaan negatif, tetapi tujuan utamanyaadalahmembatu klien agar tidak memberikan tanggapan emosional melebihi yang selayaknya tehadap sesuatu peristiwa.
REBT juga mendorong konseli untuk lebih toleran terhadap diri sendiri dan orang lain, serta mengajak mereka untuk mencapai tujuan pribadi. Tujuan trsebut dicapai dengan mengajak orang berfikir rasional untuk mengubah tingkah laku menghancurkan diri dan dengan membantunya mempelajari cara bertindak yang baru.
2.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELOR
Tugas utama konselor dalam hal ini secara pokok ada dua:
1.      Interpersonal, yaitu membangun hubungan terapeutik, membangun rapport, dan suasana kolaboratif
2.      Organisational, yaitu bersosialisasi dengan konseli untuk memulai terapi, mengadakan proses assesmen awal, menyetujui wilayah masalah dan membangun tujuan konseling.
Konselor harus aktif dan langsung. Mereka adalah instruktur yang mengajarkan danmembetulkan kognisi konseli. Melawan keyakinan yang tertanam kuat membutuhkan lebih dari sekedar logika. Dibutuhkan repetisi dan konsistensi. Oleh karena itu, konselor harus menyimak dengan cermat untuk menemukan pernyataan tidak logisatau salah dari kliennya dan keyakionan yang bertentangan. Konselor harus cerdas, berwawasan, empatik, respek, tulus, konkret, bertekad kuat, ilmiah, berminat membantu orang lain, dan pengguna REBT.
Terapis REBT menganggap bahwa kondisi fasilitatif inti dari empati, penerimaan tanpa syarat dan keaslian sering diinginkan, namun itu tidak cukup untuk merubah dalam terapi konstruktif. Untuk membatu perubahan tersebut terjadi, teripis REBT perlu membantu klien mereka untuk melakukan hal berikut:
·         Sadarilah bahwa sebagian besar maslah psikologis ditimbulkan oleh mereka sendiri.
·         Mengakui sepenuhnya bahwa mereka mampu mengatasi masalahnya.
·         Memahami bahwa maslah mereka berasal dari sebagian besar keyakinan mereka yang irrasional.
·         Mendeteksi keyakinan irrasional dan membedakannya dengan  keyakinan rasional mereka.
·         Periksa keyakinan irasional mereka dan keyakinan rasional mereka sampai mereka melihat dengan jelas bahwa keyakinan irasional mereka adalah palsu, tidak logis dan tidak konstruktif, sementara keyakinan rasional mereka benar, masuk akal dan konstruktif.
·         Berusaha menuju internalisasi keyakinanbaru mereka yang irrasional dengan menggunakan berbagai metode kognitif (termasuk imaginal), emosi dan metode perubahan perilaku. Dalam tindakan tertentu dengan cara-cara yang konsisten dengan keyakinan rasional mereka ingin mengembangkan dan menahan diri dari bertindak dengan konsisten menggunakan keyakinan lema mereka yang irasional.
·         Perluas proses pemeriksaan keyakinan dan menggunakan metode perubahan multimodal ke daerah kehidupan mereka yang lain dan berkomitmen untuk melakukannya selama diperlukan.

3.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELI
Umumnya, peran klien dalam REBT mirip seorang siswa atau pelajar. Proses konseling dipandang sebagai suatu proses reedukatif di mana klien belajar cara menerapkan pikiran logis pada pemecahan masalah.
Pengamalam utama klien adalah mencapai pemahaman emosional atas sumber-sumber gangguan yang dialaminya. Pada taraf pertama, klien menjadi sadar bahwa ada anteseden tertentu yang menyebabkan timbulnya irrasional belief. Taraf kedua, klien mengakui dirinyalah yang sekarang mempertahankan pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan yang irrasional. Tahap ketiga, klien berusaha untuk menghadapi secara rasional-emotif, memikirkannya, dan berusaha menghapus irrational belief dan mengggantinya dengan rational belief.
Klien yang telah memiliki keyakinan rasional terjadi peningkatan dalam hal : (1) minat kepada diri sendiri, (2) minat sosial, (3) pengarahan diri, (4) toleransi terhadap pihak lain, (5) fleksibel, (6) menerima ketidakpastian, (7) komitmen terhadap sesuatu di luar dirinya, (8) penerimaan diri, (9) berani mengambil risiko, dan (10) menerima kenyataan.

4.      SITUASI HUBUNGAN
Kerena REBT pada dasarnya adalah proses perilaku kognitif dan direktif, sebuah hubungan intens antara terapis dan klien tidak diperlukan. Seperti halnya terapi person centered Rogers, praktisi REBT menerima tanpa syarat semua klien den juga mengajarkan mereja untukm menerima oranglain tanpa syarat dan diri mereka sendiri.
Namun, Ellis yakin bahwa terlalu banyak kehangatan dan pemahaman dapat menjadi kontraproduktif dengan menumpuk rasa ketergantungan persetujuan dari terapis. Praktisi REBT menerima klien mereka sebagai makhluk tidak sempurna yang dapat dibantu melalui berbagai teknik mengajar, biblioterapi dan modifikasi perilaku,. Ellis membangun hubungan dengan kliennya dengan menunjukkan kepada mereka bahwa ia memiliki iman yang besar dalam kemampuan mereka untuk merubah diri mereka sendiri dan bahwa ia memiliki alat untuk membantu mereka melakukan hal ini.
Terapis REBT sering terbuka dan langsung dalam pengungkapan keyakinan diri dan nilai-nilai. Mereka bersedia untuk berbagi ketidaksempurnaan diri mereka sebagai cara untuk memperjuangkan gagasan realistis klien. Itu adalah penting untuk membangun sebanyak mungkin hubungan egaliter, sebagai lawan untuk menghadirkan diri sebagai sebuah otoritas.

G.    MEKANISME PENGUBAHAN
1.      TAHAP-TAHAP KONSELING
TAHAP I
Proses dimana konseli diperlihatkan dan disadarkan bahwa mereka tidak logis dan irrasional. Proses ini memnbantu klien memahami bagaimana dan mengapa dapat terjadi irrasional. Pada tahap ini konseli diajarkan bahwa mereka mempunyai potensi untuk mengubah hal tersebut.

TAHAP II
Pada tahap ini konseli dibantu untuk yakin bahwa pemikiran dan perasaan negatif tersebut dapat ditantang dan diubah. Pada tahap ini konseli mengeksplorasi ide-ide untuk menentukan tujuan-tujuan rasional. Konselor juga mendebat pikiran irasional konseli dengan menggunakan pertanyaan untuk menantang validitas ide tentang diri, orang lain dan lingkungan sekitar. Pada tahap ini konselor menggunakan teknik-teknik konseling REBT untuk membantu konseli mengembangkan pikiran rasional.
TAHAP III
Tahap akhir, konseli dibantu untuk secara terus menerus mengembangkan pikiran rsional serta mengembangkan fillosofi hidup yang rasional sehingga konseli tidak terjebak pada masalah yang disebabkan oleh pemikirian irasional.
Tahap-tahap ini merupakanproses natural dan berkelanjutan. tahap ini menggambarkan keseluruhan proses konseling yang dilalui oleh konselor dan konseli.

2.      TEKNIK-TEKNIK KONSELING
TEKNIK KOGNITIF
·         Dispute Kognitif (cognitif diputation)
·         Analisis Rasional (ratinal analysis)
·         Dispute standar ganda (double-standart dispute)
·         Skala katastropi (catastrophe scale)
·         Devil’s advocate atau rational role riversal
·         Membuat frame ulang (refeaming)
TEKNIK IMAGERI
·         Dispute imajinasi ( imaginal disputation)
·         Kartu kontrol emosional ( the emotional control card – ECC)
·         Proyeksi Waktu (time projection)
·         Teknik melebih-lebihkan (the blow-up technique)

TEKNIK BEHAVIORAL
·         Dispute tingkah laku (behavioral disputation)
·         Bermain peran (role playing)
·         Peran rsional tebalik (ratinal role reversal)
·         Pengalaman langsung (exposure)
·         Menyerang rasa malu (shame attacking)
·         Pekerjaan rumah (homework assignment)
H.    HASIL PENELITIAN
1.      Aaron Beck – Cognitive Therapy
Cognitive Therapy, didasarkan pada alasan teoritis bahwa cara orang merasakan dan berperilaku ditentukan oleh bagaimana mereka memahami dan struktur pengalaman mereka
2.      Donald Maichenbaum – Cognitive Behavior Modification
Cognitive Behavior Modification, pernyataan terhadap diri dalam banyak hal juga mempengaruhi diri seperti halnya pernyataan dari orang lain. Merubah pola sifat  untuk mengevaluasi perilaku.
I.       KELEMAHAN DAN KEKUATAN
KEKUATAN
·      Pendekatan ini jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan klian hanya mengalamisedikit kesulitan dalam mengalami prinsip ataupun terminologi REBT.
·      Pendekatan ini ddapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya untuk membantu klian mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi.
·      Pendekatan ini relatif singkat dan klian dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu.
·      Pendekatan ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk klian dan konselor. Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi seperti ini.
·      Pendekatan ini terus-menerus berevolusi selama bertahun-tahun dan teknik-tekniknya telah diperbaiki.
·      Pendekatan ini telah dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental parah seperti depresi dan anseitas
KELEMAHAN
·      Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia, dan mereka yang mempunyai kelainan pemikiran yang berat.
·      Pendekatan ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak individu yang mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari ke-eksentrikan Ellis.
·      Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuatkonselor terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat klien seideal yang semestinya.
·      Pendekatan yang menekankan pada perubahan pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu klien mengubah emosinya.

J.       SUBER RUJUKAN
·         Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy, 9th. Belmont, California : Brooks/Cole.
·         Nelson-Jones, R. 2011Theory and Practice of Counseling and Therapy4th.Terjemahan Helly Prajitno & Sri Mulyantini. 2012. Jakarta : Pustaka Pelajar
·         Komalasari, Gantina. Teori dan Teknik Konseling. 2011. Jakarta : Indeks
·         Parrot III, L. 2003Counseling and Psychotherapy. Pacific Grove, 2nd. CA: Brooks/Cole.
·         Gladding, Samuel T. 2009. Konseling: Profesi yang Menyeluruh (edisi enam). Terjemahan P.M. Winarno & Lilian Yuwono. 2012. Jakarta: PT. Indeks.
·         Thomson, A. Rosemary.  2003.  Counseling Techniques, 2nd. London : Roudledge
·         Ellis, Albert & Dryden, Windy. 1997. The Practice of Rational Emotive Behavior Therapy, New York : Springer Publishing
·         Dryden, Windy & Neenan, Michael. 2006. Rational Emotive Behavior Therapy : 100 Key Point . New York : Routledge

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money