Tampilkan postingan dengan label GenRe Riau. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label GenRe Riau. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Oktober 2018

Apa Itu GenRe?? Kegiatan Capacity Building PIK R Madani Jilid 2

PEKANBARU- Pusat Informasi Konseling Madani Uin Suska Riau mengadakan
agenda capacity building (21/10) yang mana agenda ini diperuntukkan bagi
anggota baru yang ikut serta dalam open recruitment pengurus PIK MADANI
UIN SUSKA RIAU. Acara ini dilaksanakan di Aula MPI kampus UIN SUSKA
RIAU. Dalam acara ini diikuti sekitar 20 peserta dari berbagai jurusan yang ada di kampus UIN SUSKA RIAU.

Agenda capacity Building ini diadakan bertujuan untuk memberikan pengertian
dasar bagaimana PIK ini terbentuk, tujuan dari program PIK dan sejarah PIK
MADANI ini yang disampaikan langsung oleh kak Naufal Alwan Adillah selaku
ketua Forum GenRe Pekanbaru dan ketua PIK MADANI dan Kak Fania Frisca
Afindra selaku Duta GenRe Persahabatan 2018.

Agenda dilaksanakan mulai pukul 08.00 hingga 12.00 kemudian dilanjutkan
dengan Ishoma kemudian dilanjutkan lagi dengan interview oleh kak Naufal
Alwan Adillah dank an Rozan Zuhairi Harahap.

Harapan kak Naufal selaku ketua PIK Madani UIN SUSKA semoga kedepannya
dapat melaksanakan agenda-agenda yang lebih baik dan bersiap-siap bagi anggota
baru PIK MADANI untuk menggantikan posisi kepengurusan lama PIK
MADANI.

Salam GenRe !!!

(Rizqi Mardhatilah)

Senin, 22 Oktober 2018

PENGUMUMAN KELUSUSAN PUSAT INFORMASI KONSELING MADANI UIN SUSKA RIAU


1. UNIK SETIAWAN

2. ADE MAHARDIKA

3. ADE MAESA

4. WIWIT FEBRIANI

5. DALFAH RATNA DEWI

6. AFNLYA NIGSIH

7. DARLINGGA PRASTY

8. ROHANA

9. ARDHISTAWA

10. RAHMI RAHMA DANI

11. REZKI NABILAH

12. WINNE FEBRIANISA

13. NOLA BERLIANA PUTRI

14  DESY RAMA


SELAMAT BAGI KAMU YANG DITERIMA UNTUK MENJADI PENGURUS PUSAT INFORMASI KONSELING MADANI. SILAHKAN HUBUNGI NO DIBAWAH INI

>>>>> 0813-1462-4272<<<<<<

NAUFAL

Minggu, 23 September 2018

Ramadhan bersama adik-adik SD Cerdas


Ramadhan merupakan bulan ampunan dimana pintu rahmad dan karunia terbuka lebar bulan dimana semua umat islam diwajibkan untuk berpuasa, karena puasa merupakan salah satu Rukun Islam (Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, dan Berhaji), jadi jika ada orang islam yang tidak berpuasa, maka wajib dipertanyakan status keislamannya.Puasa adalah ibadah kepada Allah ta’ala dengan menahan diri dari makan minum dan segala sesuatu yang membatalkannya sejak terbit fajar sampai terbenam matahari ibadah puasa mensucikan dan membersihkan jiwa dari segala perbuatan dan perkataan yang tercela tubuh kita juga menjadi sehat selain itu juga diikuti oleh amal-amalan lain seperti zakat .




Beberapa waktu lalu PIK Madani mengadakan bakti sosial dan buka puasa bersama dengan adik-adik di SD Cerdas yaitu PKPLK POKJAR Sukajadi SD Induk SDN 79 Pekanbaru , dimana dalam kegiatan ini sebelum berbuka puasa kita PIK Madani tidak hanya turut aktif dalam membersihkan sekolah saja looh teman-teman, tapi kita juga mengadakan games dan materi terkait remaja dalam persiapan menggapai cita-cita mereka kelak, adik-adik tersebut antusias dalam mengutarakan cita-cita mereka loh guys dan kakak-kakak madani bergantian memberikan motifasi kepada mereka agar mereka semakin percaya diri dalam menggapai cita-cita mereka kedepannya. Selain itu kita mengadakan games dari hapalan surat, lomba salam GenRe, Makna salam GenRe. bermcam hadiah mereka dapatkan mulai dari tas, tempat minum, buku dan masih banyak lagi, kegiatan ini dihadri lansung oleh Ibu Guru SD Cerdas dan keseluruhan peserta yang mengikuti kegiatan ini berjumlah 43 orang.


Tak terasa nihh beberapa saat lagi azan Magrib mulai berkumandang dan langitpun mulai gelap, kita bersiap-siap untuk berbuka puasa dan adik-adik pun mulai mempersiapkan dirinya untuk duduk diposisinya untuk buka puasa dan membaca doa berbuka puasa secara bersama-sama, kegiatan ini berjalan dengan lancer dan diakhir sesi dilakukannya foto bersama dan pemberian cindramata kepada sekolah.
Admin PIK R MADANI: Naufal Alwan Adilah

Selasa, 04 September 2018

DISDUK CAPIL DALDUK KB Provinsi Riau Mengadakan Kegiatan Focus Grub Diskusi Program Generasi Berencana (GenRe) dan Lomba Cerdas Cermat GenRe Tahun 2018 Se Provinsi Riau


PEKANBARU  Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil Pengendalian Penduduk dan keluarga Berencana Provinsi Riau Mengadakan Kegitan “Fokus Grub Diskusi Program Generasi Berencana (GenRe) dan Lomba Cerdas Cermat GenRe 2018 (18s/d21/02/2018)” di Hotel Dyan Graha Pekanbaru. Kegiatan ini diikuti oleh 12 Kabupaten Kota Se Provinsi Riau yang diutus oleh Dinas P2KB Masing-masing Kabupaten Kota. Peserta dari kegiatan ini merupaka pengurus atau perwakilan PIK-R di Kabupaten atau Kotanya, kegiatan ini juga melibatkan PIK R Madani Uin suska Riau dan PIK R Plasenta Akbid Sempena Negeri Pekanbaru terlibat sebagai panitia sebanyak 4 orang.

Kegiatan Ini Langsung dibuka oleh Kepala Bidang Keluarga Sejahtera dan Pembangunan Keluarga, Dinas Kependudukan Pencatatan Sipil Pengendalian Penduduk dan keluarga Berencana Provinsi Riau” Ibu Efnida. S.E dan Di hadiri oleh seluruh Peserta, tamu undangan, Ketua Forum GenRe Indonesia dan pejabat dilingkungan DISDUK CAPIL DALDUK KB Provinsi Riau.

Focus Grub discution merupakan temu kerja dan forum tukar pengalaman Pengurus PIK Remaja Se Provinsi Riau karena setiap organisasi terkadang memiliki masalah dan kendalanya masing-masing diharapakan dengan adanya Kegiatan ini mereka mampu mengutarakan masalah-masalah maupun kendala berorganisasi selama menjadi pengurus PIK-R dan tentunya dapat memberikan Solusi  serta memunculkan ide-ide creative untuk mereka bawa pulang ke kabupaten kotanya masing-masing. Kegiatan ini juga menghadirkan pemateri-pemateri yang sangat luar biasa mulai dari Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) Oleh DISDUK CAPIL DALDUK KB Provinsi Riau, Dampak Penyalah Gunaan Napza Oleh BBN Provinsi Riau, Mekanisme PIK Remaja Oleh Perwakilan, Life skill oleh Kak Rizky Mahardhika dan sharing-sharing dengan Kak Nordianto Selaku Ketua Forum GenRe Indonesia.


Setelah kurang lebih selama dua hari mereka mendapatkan banyak materi terkait program ketahanan remaja melalui Program GenRe seluruh peserta mengikuti kegiatan ini dan juga mengikuti kegiatan Lomba Cerdas Cermat GenRe di sesi akhir acara, perwakilan dari 12 kabupaten kota. Dan didapatkanlah 3 pemenang juara yaitu juara 3 Kabupaten Bengkalis, Juara 2 Kota Pekanbaru dan yang mendapatkan Juara Pertama adalah Kabupaten Indragiri Hilir. Selamat kepada seluruh peserta dan pemenang lomba cerdas cermat GenRe. Diharapkannya diadakannya kegiatan ini dapat menambah semangat, menambah motivasi, ide-ide creative dan tentunya dapat menyalurkan segala informasi yang mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan ini kepada teman sebaya dan tentunya kepada masyarakat. (Naufal A.A)




Serunya Pelatihan Pusat Informasi Konseling Remaja Di Kota Pekanbaru tahun 2018


PEKANBARU – Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DISDALDUK KB) Kota Pekanbaru bersama Forum GenRe Pekanbaru mengadakan Pelatihan Pusat Informasi dan konseling Remaja (PIK R). Acara ini berlangsung selama 3 hari terhitung dari tanggal 28-30 agustus 2018. Pelatihan PIK R yang di adakan di Hotel New Hollywood tersebut, mengundang peserta dari berbagai perwakilan sekolah SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi, PIK R dari jalur masyarakat maupun jalur pendidikan.

Narasumber pada Pelatihan Pusat Informasi dan konseling Remaja (PIK R) menghadirkan DISDUK CAPIL DISDALDUK KB Provinsi Riau, Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Ikatan Konselor Indonesia Provinsi Riau, Kementerian Agama Kota Pekanbaru, BNN Kota Pekanbaru, Kak Helmi dan Kak Rizky Mahardhika .

Pelatihan ini bertujuan agar seluruh remaja yang ada di kota Pekanbaru berkualitas baik di bidang perencanaan karirnya maupun perencanaan keluarga yang harmonis kedepannya. Selainitu, agar remaja terhindar dari Triad KRR (Pernikahan Dini, Seks Bebas, Napza).

Selama 3 hari peserta pelatihan PIK R diberikan materi seputar: Kesehatan Reproduksi, 8 fungsi keluarga keluarga, Intregitas Diri, NAPZA, Konsul GenRe, dan 4 subtansi Genre. Acara ini mendapat antusias yang sangat baik dari parapeserta. Dalam setiap materi yang diberikan peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dengan hal yang belum mereka fahami.


Selain materi, peserta Pelatihan PIK R juga disuguhkan dengan kegiatan menariklainnya. Seperti Battle Jargon dari setiap kelompok, Flashmoob Asian Games sehingga semangat dan euphoria  Asian Games begitu terasa di Pelatihan PIK R tersebut. Diakhir acara dilakukan tukar kado untuk sahabat rahasia.




Pelatihan PIK R 2018 ini merupakan tahun kedua dilaksanakannya Pelatihan PIK R untuk remaja Kota Pekanbaru. Diharapkan setelah ini akan ada acara atau kegiatan yang lebih menarik lagi dan pelatihan PIK R ini akan terus diadakan setiap tahunnya, Ujar salah seorang PesertaPelatihan PIK R.


Harapan kedepannya setelah acara pelatihan PIK R ini selesai adanya perubahan yang lebih baik lagi bagi peserta Pelatihan  PIK R itu sendiri tentunya serta dapat mengajak teman-teman lainnya untuk gabung di PIK R. Dengan begitu dapat menghindari remaja dari Triad GenRe. (RizqiMardhatillah)
Salam GenRe !

Minggu, 02 September 2018

Life Skill di Era Milenial



Era milinial, Era modernitas, teknologi yang berkembang laju menuntut individu untuk terus berkarya mengikutinya. Yaa, demi untuk mensejahterakan kehidupan. Yang katanya sekarang jamannya “Jaman Susah”. Tidak hanya orang tua, dimasa sekarang remaja dituntut untuk mandiri serta menyiapkan segala potensi matang dalam dirinya untuk menghadapi ketatnya persaingan yang akan dihadapinya kelak di masa depan. Remaja, yang lagi seru-serunya mengikuti pergaulan, fashion, berbagai bentuk kegiatan para idola, tidak jarang menjadi kurang memperhatikan pentingnya memiliki life skill. Sebagai remaja pasti sering mendapat pertanyaan dari dirinya sendiri seputar, “Siapa aku? Mau jadi apa aku? Potensi apa yang aku punya? Bagaimana caranya?” Dan sebagainya. Lalu, apa sebenarnya kiat-kiat yang harus dilakukan dalam hal life skill ini?

Life skill atau keterampilan hidup adalah kemampuan untuk berperilaku yang adaptif dan positif yang membuat seseorang dapat menyelesaikan kebutuhan dan tantangan sehari-hari dengan efektif.(World Health Organization/WHO). Tujuan memiliki life skill itu sendiri yaitu agar kita bisa melindungi diri dari berbagai resiko dan ancaman sehingga kita bisa hidup dengan baik untuk mencapai cita-cita. Dengan memiliki life skill, tentu kita sebagai remaja akan memiliki masa-masa indah dan memiliki masa depan yang lebih cerah di banding dengan remaja yang abu-abu terhadap life skillnya.

Beberapa kiat-kiat seputar life skill yang perlu remaja memiliki yaitu mengambil keputusan (Decision Making), Memecahkan Masalah (Problem Solving), Berfikir Kreatif (Critical Creatif), Berkomunikasi dengan Efektif (Effective Communcation), Membina Hubungan (Relationship), Berempati (Empathy), Mengendalikan Emosi (Emotion Management), Mengatasi Stress (Stress Management). Nah dengna bekal life skill seperti di atas, remaja akan memiliki pergaulan dan masa depan yang cerah. Remaja akan membangun jati diri dengan baik, serta akan mengatasi segala tatangan hidup dengan penuh engalaman berharga.

Life skill juga tidak terlepas dari bagaimana remaja menggali potensi yang ada didirinya, bagaimana remaja menyalurkan potensi yang nantinya akan menjadi modal seorang remaja meniti karir. Banyak hal yang dapat dilakukan remaja dalam mengenali potensinya, bisa melalui berbagai tes potensi, ada potensi yang berasal dari hobi dan ada juga potensi yang terlebih dahulu harus di asah. Nah sebagai remaja berencanakita perlu sekali mengetahui dan menyalurkan potensi kita, agar selalu terasah dan akan menjadi suatu modal bagi diri kita untuk menyongsong madadepan yang gemilang. (Hety Purnama Sari)


Minggu, 26 Agustus 2018

Riau Youth Camp 2018


                PEKANBARU- Riau Youth Camp 2018 adalah salah satu kegiatan perdana dalam memperingati Hari Remaja Internasional yakni pada tanggal 12 agustus 2018  yang di laksanakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) yang mana kegiatan ini berlokasi di kantor BKKBN jalan Terubuk  no 1 Pekanbaru .

                Kegiatan yang menyertakan para remaja  dari berbagai kalangan yakni Siswa SMP—SMA , Mahasiswa,  utusan dari PIK R,Organisasi dan komunitas lainya yang ikut barpartipasi dalam kegiatan ini  membuat suau kebanggan sendiri bagi Kepala Perwakilan BKKBN  Provinsi Riau “ Terima kasih kepada peserta yang telah hadir ikut serta dalam berkegiatan positip untuk beberapa hari kedepan “ ujarnya pada malam pertama Riau Youth Camp saat memulai memberikan materi. (10/08/2018)

                Kegiatan Riau Youth Camp 2018 ini berjalan selama 3 hari 2 malam (10-12) dengan jadwal peserta yang dipadati dengan kegiatan posititif dan bermanfaat seperti  Materi,game yang melatih kekompakan ,hiking dan keseruan lainya. Peserta bangun pagi sekali untuk memulai aktivitasnya dan istirahat didalam tenda yang berlokasikan dihalaman kantor BKKBN.


                ‘’ Seru dan bagus kegiatan nya apalagi kan pas akhir weekend jadi kalau remaja ada kegiatan seperti ini lebih bermanfaat sedangkan biasanya remaja malah nongkrong dan jalan sana sini, sangat bermanfaat dan harapan nya sih ya lembaga sering mengikutsertakan remaja khususnya kegiatan positif seperti ini’ujar Haibah Sakdiah PIK Madani Uin Suska Riau (12/08/2018) -Haibah Sakdiah




PIK REMAJA MADANI Mengadakan Capacity Building 2018




            PEKANBARU – Capacity Building atau ( Pengembangan Kapasitas ) adalah proses dimana individu dan organisasi memperoleh, meningkatkan dan mempertahankan keterampilan, pengetahuan, peralatan – peralatan sumber daya lain yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka secara kompeten atau untuk kapasitas yang lebih besar sehingga sebuah organisasi bisa dan lebih mampu bergerak sesuai dengan dipoksinya masing-masing.

            Berbicara tentang Capacity Building beberapa saat yang lalu kita PIK R Madani mengadakan Capacity Building dan diikuti oleh anggota PIK R Madani dan saat itu kita juga mengundang ketua PIK dan anggota PIK Sebelumnya yaitu kak Ilham, kak Khairil Anan, Kak Tiyas dan Kak Evan. kegiatan ini berlangsung pada Sabtu, 12 May 2018 di AULA MPI dan berdekatan dengan Secretariat PIK R Madani.

            Di Capacity Building ini kita turut menghadirkan Pembina PIK R Madani ada Ibu Raja Rahima Munawaroh Raja Ahmad, M.Pd, Kons. Yang juga memberi materi tentang Konselor Sebaya atau menjadi konselor dalam program GenRe dan kita juga turut mengundang Kakak Rizky Mahardhika selaku Duta GenRe Provinsi Riau yang juga memberikan kita banyak materi serta pengetahuan yang banyak terkait PIK Remaja, GenRe, Pendidik Sebaya, Public Speaking dengan metode Word Café , HIV dan AIDS, 8 Fungsi Keluarga, ke organisasian dan masih banyak lagi. tentunya dengan keseruan dan kebahagiaan sebagai remaja terencana nantinya. kegiatan ini di tutup dengan program kegiatan tindak lanjut dengan selesainya kegiatan capacity building ini yaitu membuat satu program kegiatan dibulan ramadhan dan rancangan kegiatan langsung.

            Diharapkan kedepannya dengan dilaksanakan kegiatan Capacity Building ini dapat memberikan semangat dan motivasi kepada teman-teman semua agar kedepanya kader PIK R Madani lebih memahami dan mengerti tentang tugasnya sebagai kader PIK R, meliputi Konselor Sebaya, Pendidik Sebaya, HUMAS, KIE, PSDM dan juga terkait dengan materi-materi pengetahuan yang ada didalamya untuk dapat di sampaikan informasinya kepada teman-teman sebaya, masyarakat dan diterapkan dikehidupan sehari-hari. (08-25-2018 Naufal A.A)
           

Sabtu, 25 Agustus 2018

Keseruan Peringatan Hari Keluarga Nasional (HARGANAS) BKKBN Provinsi Riau Bersama Remaja Genrengers Riau Tahun 2018



PEKANBARU – Setiap tanggal 29 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (HARGANAS). Tanggal ini ditetapkan melalui keputusan Presiden RI Nomor 39 Tahun 2014. Harganas diperingati untuk mengingatkan pada seluruh masyarakat Indonesia akan pentingnya keluarga sebagai sumber kekuatan untuk membangun bangsa dan Negara.

Tema Harganas XXV tahun 2018 adalah, “Hari Keluarga : Hari Kita semua” dengan membawa tagline“Cinta Keluarga Cinta Terencana”. Dalam memperingati Hari Keluarga Nasional, BKKBN Provinsi Riau bersama GenRenggers mengadakan serangkaian Kegiatan untuk turut memeriahkan acara ini. Kegiatan ini melibatkan 100 Remaja di Kota Pekanbaru yang terdiri dari Forum Anak Pekanbaru, Duta Remaja Riau,  Ikatan Duta Genre, dan dari berbagai PIK R di Kota Pekanbaru baik jalur Masyarakat maupun Pendidikan.

Untuk memeriahkan peringatan Hari Keluarga Nasional ini, 100 remaja di kumpulkan untuk mempersembahkan Flashmoob di hari peringatan Harganas nantinya. Latihan Flashmoob ini terbilang singkat karena hanya dilakukan 2 hari sebelum Hari Keluarga Nasional di peringati. Karena antusias dan kekompakan para 100 Remaja tersebut selama  latihan Flashmoob berlangsung menyenangkan.

Tepat pada tanggal 29 Juni 2018 para peserta Flashmoob sudah berkumpul di halaman Kantor BKKBN Provinsi Riau pada pukul 6.30 WIB. Sebelum kegiatan Flashmoob di mulai para 100 remaja di bagi  pada 3 titik untuk membagikan bunga dan stiker ucapan selamat Hari Keluarga Nasional antara lain, di simpang tiga jl. Nangka, Bundaran Tugu Zapin, dan simpang jl. Harapan Raya.

Bunga dan stiker yang dibagikan di beberapa titik tersebut habis lebih cepat dari waktu yang sudah  perkirakan. Hal ini tak lepas dari antusias dan apresiasi masyarakat kota Pekanbaru. Setelah selesai kegiatan pembagian bunga dan stiker ini selanjutnya para peserta Flashmoob segera menuju ke lokasi kegiatan Flashmoob dilaksanakan yang bertepatan di kampus STIKES HANG TUAH. Setelah semuanya berkumpul maka di mulai lah kegiatan Flashmoob ini dengan bentuk formasi XXV yang terinsprirasi dari peringatan HARGANAS ke XXV.

Setelah kegiatan ini terlaksana para peserta Flashmoob kembali ke kantor BKKBN dengan hati senang dan puas karena acara peringatan Harganas ini berjalan dengan lancar. (Rizqi Mardhatilah)

Senin, 27 Maret 2017

Solution Focused Brief Counseling

SFBC (Solution Focus Brief Counseling)


  1. NAMA PENDEKATAN
Nama pendekatan konseling ini adalah Solution Focus Brief Counseling. Konseling ini selanjutnya disingkat SFBC,  adalah suatu konseling singkat yang dibangun atas potensi konseli yang sebenarnya mampu mengkonstruksi solusi dari masalahnya.

  1. SEJARAH PERKEMBANGAN
SFBC merupakan salah satu teknik konseling pendekatan postmodern. Tumbuh dari orientasi terapi strategis di lembaga penelitian jiwa, SFBC menggeser fokus dari penyelesaian masalah untuk fokus pada solusi lengkap.
Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg memulai pergeseran ini di pusat terapi singkat di Milwaukee pada akhir tahun 1970an. Setelah tumbuh tidak puas dengan kendala dari model strategis, pada tahun 1980an de Shazer berkolaborasi dengan sejumlah terapis, termasuk Eve Lipchik, John Walter, Jane Peller, Michelle Weiner-Davis, dan Bill O’Hanlon, yang masing-masing menulis secara ekstensif tentang SFBC dan memulai SFBC di lembaga pelatihan  mereka. Baik O’Hanlon dan Weiner-Davis terpengaruh oleh karya asli de Shazer, namun mereka memperluas dasar ini dan menciptakan apa yang mereka sebut Solution – Oriented therapy. Dalam  bab ini ketika didiskusikan solution-focused brief therapy, solution-focused therapy, dan solution-oriented therapy, lebih difokuskan pada kesamaan pendekatan ini daripada melihat perbedaannya.
Dua pendiri utama SFBC yaitu INSOO KIM BERG : Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER : salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
SFBC berbeda dengan dari terapi tradisional dengan mengulas masa lalu dalam mendukung baik saat ini maupun masa depan. Konselor fokus pada apa yang mungkin, dan mereka kurang tertarik dalam  mengeksplorasi masalah. De Shazer mengatakan bahwa tidak perlu mengetahui penyebab masalah untuk menyelesaikannya dan tidak perlu menghubungkan antara penyebab masalah denga solusi. Pengumpulan informasi mengenai masalah tidak dibutuhkan dalam mengubah hal yang terjadi.
Jika mengetahui dan memahami masalah itu tidak penting, maka selanjtnya adalah mencari solusi yang benar. Setiap orang mungkin mempertimbangkan banyak solusi, dan apa yang benar bagi seseorang bisa jadi tidak benar menurut orang lain. dalam SFBC, konseli memilih tujuan  penyelesaian yang mereka harapkan, dan sedikit perhatian dalam memberikan diagnosis, pembicaraan masa lalu, atau eksplorasi masalah.
SFBC dibangun atas dasar asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dengan optimal. Asumsi pokok dalam SFBC ini bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan hidup, walaupun kadang-kadang kita mungkin kehilangan arah atau kesadaran tentang kemampuan kita. Tanpa memperhatikan apa yang dibentuk konseli ketika mereka memulai konseling, Berg percaya konseli kompeten dan tugas konselor adalah untuk membantu konseli mengenali kompetensi yang mereka miliki. Esensi dari konseling ini adalah melibatkan konseli dalam membangun harapan dan optimis dengan membuat ekspektasi positif dalam kemungkinan perubahan. SFBC adalah pendekatan non patologis yang menekankan kompetensi dari pada kekurangan, dan kekuatan dari pada kelemahan. Model SFBC membutuhkan sikap filosofis dalam  menerima konseli dimana mereka dibantu dalam membuat solusi. O’ Hanlon mendeskripsikan  orientasi positif : “ menumbuhkan solusi – meningkatkan kehidupan manusia dari pada fokus  pada bagian-bagian patologi masalah dan perubahan menakjubkan dapat terjadi sangat cepat”. Karena konseli sering datang ke konseling dengan  pernyataan “ orientasi masalah”, bahkan sedikit solusi yang mereka pertimbangkan bersampul dalam kekuatan orientasi masalah. Konseli sering memiliki cerita yang berakar dalam sebuah pandangan yang menentukan apa yang terjadi di masa lalu pasti akan membentuk masa depan mereka. Konselor SFBC menentang pernyataan konseli dengan percakapan optimis yang menyoroti keyakinan mereka dalam pencapaian , menggunakan tujuan dari berbagai sudut. Konselor dapat menjadi penolong dalam  membantu konseli membuat pergeseran dari pernyataan masalah ke kondisi dengan kemungkinan-kemungkinan baru.  Konselor dapat mendorong dan menantang konseli untuk menulis cerita yang berbeda yang dapat menyebabkan akhir yang baru.

  1. HAKIKAT MANUSIA
Konseling berfokus solusi tidak mempunyai pandangan komprehensif tentang sifat manusia, tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan konseli. Konseling berfokus solusi menganggap manusia bersifat konstruktivis. Sehingga, konseling berfokus solusi didasarkan pada asumsi bahwa manusia benar-benar ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan.





  1. PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      STRUKTUR KEPRIBADIAN
Struktur  kepribadian manusia berdasarkan teori SFBC adalah sebagai berikut:
a.       SFBC tidak menggunakan teori kepribadian dan psikopatologi yang ada saat ini
b.      Konselor tidak bisa memahami secara pasti tentang penyebab masalah individu
c.       Konselor perlu tahu apa yang membuat orang memasuki masa depan yang lebih baik dan sehat, yaitu tujuan yang lebih baik dan sehat
d.      Individu tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi bisa mengubah tujuannya
e.       Tujuan yang lebih baik dapat mengatasi masalah dan mengantarkan masa depan yang lebih produktif
f.       Konselor perlu mengetahui karakteristik tujuan konseling yang baik dan produktif, proses positif, saat ini, praktis, spesifik, kendali konseli dan bahasa konseli
g.      Sebagai ganti teori kepribadian dan psikopatologi, masalah dan masa lalu, SFBC berfokus pada saat ini yang dipandu oleh tujuan positif  yang spesifik yang dibangun berdasarkan bahasa konseli dan dibawah kendalinya.

2.      PRIBADI SEHAT DAN BERMASALAH
Pribadi sehat berdasarkan teori SFBC adalah:
a.       Manusia pada dasarnya kompeten, memiliki kapasitas untuk membangun, merancang/ merekonstruksikan solusi-solusi sehingga mampu menyelesaikan masalahnya
b.      Tidak berkutat pada masalah, tetapi fokus pada solusi dan bertindak mewujudkan solusi yang diinginkan



Pribadi bermasalah menurut SFBC adalah:
a.       Mengkonstruk kelemahan diri. Dengan cara mengkonstruk cerita yang diberi label “masalah” dan meyakini bahwa ketidakbahagiaan berpangkal pada dirinya.
b.      Berkutat pada masalah dan merasa tidak mampu  menggunakan solusi yang dibuatnya.

  1. HAKIKAT KONSELING
Walter dan Peller berpikir mengenai konseling berfokus solusi sebagai model yang menerangkan bagaimana orang berubah dan bagaimana mereka dapat meraih tujuan mereka. Berikut ini beberapa asumsi dasar SFBC:
1.      Individu-individu yang datang konseling telah mempunyai kemampuan berperilaku efektif, meskipun keefektifan tersebut mungkin untuk sementara terhambat oleh pikiran negatif. Pikiran berfokus masalah mencegah orang dari mengenali cara efektif mereka dalam menangani masalah
2.      Ada  keuntungan untuk fokus positif pada solusi dan di masa depan. Jika konseli dapat mereorientasi diri mereka dengan mengarahkan kekuatan mereka menggunakan “ solution –talk” , merupakan suatu kesempatan bagus dalam konseling singkat
3.      Proses konseling diorientasikan pada peningkatan kesadaran eksepsi (harapan-harapan yang  menyenangkan) terhadap pola masalah yang dialami dan pemilihan proses perubahan
4.      Konseli sering mengatakan satu sisi dari diri mereka. SFBC mengajak konseli untuk memerika sisi lain dari cerita hidupnya yang disampaikan.
5.      Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan besar. Seringkali, perubahan kecil adalah semua yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dibawa konseli ke konseling
6.      Konseli ingin berubah, memiliki kemampuan untuk berubah, dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi. Konseli harus mengambil sikap kooperatif dengan konseli daripada merancang strategi sendiri untuk mengendalikan  hambatan. Ketika konselo mencari cara untuk kooperatif dengan konseli, maka perlawanan/ resistensi tidak akan terjadi.
7.      Konseli bisa percaya pada niat mereka untuk menyelesaikan masalah mereka. Tidak ada solusi yang “benar” untuk masalah spesifik yang dapat diaplikasikan pada semua orang. Setiap individu unik dan begitu juga pada setiap penyelesaian masalahnya.

  1. KONDISI PENGUBAHAN
Bertolino dan O’Hanlon  menekankan pentingnya membuat kolaborasi  hubungan terapeutik  dan  perlu dilakukan untuk keberhasilan konseling. Diakui bahwa konselor memiliki keahlian dalam  menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa konseli adalah ahli dalam kehidupan mereka dan sering memiliki perasaan yang bagus tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan di masa lalu dan begitu juga apa yang mungkin dilakukan di masa depan. SFBC mengasumsikan  pendekatan kolaboratif dengan konseli berbeda dengan sikap edukatif yang biasanya dikaitkan dengan model terapi tradisional. Jika konseli terlibat dalam proses terapeutik dari awal sampai akhir, perubahan  meningkat sehingga konseling akan sangat berhasil. Singkatnya, hubungan kolaborasi dan kooperatif  cenderung lebih efektif dari pada hubungan hierarki dalam konseling.

1.      TUJUAN
SFBC menawarkan beberapa bentuk tujuan:
-          Mengubah cara pandang situasi atau kerangka pikir
-          Mengubah situasi masalah dan menekankan pada kekuatan dan sumber daya konseli
-          Konseli didorong untuk terlibat dalam perubahan atau “ solution talk”, dari pada “problem talk” dengan asumsi bahwa apa yang dibicarakan adalah sebagian besar apa yang akan dihasilkan
-          Berbicara tentang perubahan dapat menghasilkan perubahan. Secepat individu belajar untuk berbicara dalam  istilah kemampuan  dan  kompetensi mereka, apa sumber daya dan kekuatan yang mereka miliki, dan apa yang siap mereka lakukan  dan mengerjakannya, mereka dapat mencapai hal utama dalam konseling.

2.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELOR
-          Mengidentifikasi dan memandu konseli mengeksplorasi kekuatan-kekuatan dan kompetensi yang dimiliki konseli
-          Membantu konseli mengenali dan membangun perkecualian-perkecualian pada masalah, yaitu saat-saat ketika konseli telah melakukan (memikirkan, merasakan) sesuatu yang mengurangi atau membatasi dampak masalah
-          Melibatkan konseli untuk berpikir tentang masa depan mereka dan apa yang mereka inginkan yang berbeda di masa depan
-          Konselor mengambil posisi “ tidak mengetahui” untuk meletakkan konseli pada posisi sebagai ahli mengenai kehidupan mereka sendiri. Konselor tidak mengasumsikan diri sebagai ahli yang mengetahui tindakan dan pengalaman konseli
-          Membantu konseli dalam mengarahkan perubahan tetapi tidak mendikte konseli apa yang ingin diubah
-          Konselor berusaha membentuk hubungan yang kolaboratif dan menciptakan suatu iklim yang respek, saling menghargai dan membangun suatu dialog yang bisa menggali konseli untuk mengembangkan kisah-kisah yang mereka pahami dan hayati dalam kehidupan mereka
-          Konsisten dalam membantu konseli berimajinasi bagaimana mereka menginginkan hal yang berbeda dan apa yang akan dilakukan untuk membawa perubahan tersebut terjadi dengan menanyakan “ apa yang Anda inginkan dari datang kesini?”, “apa yang akan membuat perbedaan untukmu?” dan “ apa kemungkinan-kemungkinan yang Anda tandai bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?.

3.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELI
-          Mau dan mampu berkolaborasi dengan konselor
-          Aktif terlibat dalam  proses konseling
-          Memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah

  1. MEKANISME PENGUBAHAN
1.      TAHAP-TAHAP KONSELING
a.      Establishing rapport. Yaitu pembentukan hubungan baik agar proses konseling berjalan lancar seperti yang diharapkan. Agar tercipta iklim yang kolaboratif antara konselor dengan konseli.
b.      Identifying a solvable complaint. Yaitu mengidentifikasi keluhan-keluhan yang akan dipecahkan.
c.       Establishing goals atau menetapkan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling.
d.      Deigning an intervention atau merancang intervensi
e.       Strategic task  that promote change. Yaitu tugas tertentu yang diberikan oleh konselor untuk mendorong perubahan. Misalnya dengan meminta konseli untuk mengamati  dengan mengatakan:” antara sekarang dan waktu mendatang kita bertemu, saya meminta anda untuk mengamati, sehingga Anda dapat menggambarkan pada saya pada pertemuan mendatang, apa yang terjadi di kehidupan Anda yang Anda inginkan terjadi secara berkelanjutan”.  Penugasan tersebut mendorong konseli bahwa perubahan yang diinginkan pasti terjadi dan tidak terelakkan. Hal tersebut sangat penting dipahami sebelum mereka memulai merancang perubahan.
f.        Identifying & emphazing new behavior & changes. Yaitu mengidentifikasi dan menguatkan perilaku baru dan perubahan.
g.      Stabilization atau stabilisasi
h.      Termination. Pada tahap terminasi, ciri-ciri pertanyaan yang diajukan konselor untuk mengidentifikasi keberhasilan knseling yaitu: “ apa hal berbeda yang diperlukan dalam hidup Anda yang dihasilkan dengan datang kemari sehingga Anda mengatakan bahwa pertemuan kita bermanfaat?”, dan “ ketika masalah Anda teratasi, hal berbeda apa yang akan Anda lakukan?”.

2.      TEKNIK-TEKNIK KONSELING
·         Exeption-Finding Questions : Pertanyaan tentang saat-saat dimana konseli bebas dari masalah. SFBT didasarkan pada gagasan dimana ada saat-saat dalam hidup konseli ketika masalah yang mereka identifikasi tidak bermasalah. Waktu tersebut disebut pengecualian dan disebut “ news of difference”. Konselor SFBC mengajukan ask exeption question untuk menempatkan konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau ketika masalah yang ada tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman hidup konseli di masa lalu ketika dimungkinkan  masalah tersebut masuk akal terjadi, tetapi entah bagaimana hal itu tidak terjadi. Dengan membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa pengecualian tersebut kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju solusi. Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat dan  ada selamanya; juga menyediakan kesempatan untuk meningkatkan sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan  menempatkan solusi yang mungkin. Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan agar pengecualian ini lebih sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini disebut “change-talk”.
  Miracle Questions : Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan terjadi jika suatu masalah dialami secara ajaib terselesaikan. Konselor menanyakan “ jika suatu keajaiban terjadi dan masalah Anda terpecahkan dalam waktu semalam, bagaimana Anda tahu bahwa masalah tersebut terselesaikan, dan apa yang akan berbeda?”. Konseli kemudian terdorong untuk menegaskan apa yang mereka inginkan agar merasa lebih percaya diri dan aman, konselor bisa mengatakan: “ biarkan dirimu berimajinasi bahwa kamu meninggalkan kantor hari ini dan kamu dalam  rel untuk bertindak lebih percaya diri dan aman. Hal berbeda apa yang akan kamu lakukan?”. Mengubah hal yang dilakukann dan cara pandang terhadap masalah  mengubah masalah tersebut. Meminta konseli untuk mempertimbangkan keajaiban tersebut dapat membuka celah kemungkinan di masa depan. Konseli didorong untuk mengikuti mimpinya sebagai cara dalam mengidentifikasi perubahan apa saja yang paling ingin mereka lihat. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan bahwa konseli dapat mulai  mempertimbangkan hal yang berbeda dalam hidupnya yang tidak didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan  dari masa lalu dan masalah saat ini menuju kehidupan yang lebih memuaskan di masa depan.
  Scaling Questions : Pertanyaan yang meminta konseli menilai kondisi dirinya (masalah, pencapaian tujuan) berdasarkan skala 1-10. Konselor SFBC juga menggunakan teknik ini ketika mengubah pengalaman konseli yang tidak mudah diobservasi, seperti perasaan, keinginan atau komunikasi. Sebagai contoh, seorang perempuan mengatakan bahwa dia merasa panik atau cemas, bisa ditanyakan:” pada skala 0-10, dengan 0 adalah apa yang Anda rasakan ketika Anda pertama kali datang konseling dan 10 sebagai perasaan Anda hari ini setelah keajaiban terjadi dan  masalah Anda teratasi, bagaimana Anda menyatakan  skala kecemasan Anda sekarang?”. Bahkan jika konseli hanya berkembang dari 0 ke 1, dia telah berkembang. Bagaimana dia melakukan itu? Apa yang dia perlukan untuk meningkatkan skala? Pertanyaan skala memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah yang akan memandu perubahan yang mereka inginkan.
  Coping Questions : Pertanyaan yang meminta konseli mengemukakan pengalaman sukses dalam menangani masalah yang dihadapi.
  Compliments : Pesan tertulis yang dirancang untuk memuji konseli atas kelebihan, kemajuan, dan karakteristik positif bagi pencapaian tujuannya. 

  1. HASIL-HASIL PENELITIAN
Penelitian SFBC telah dilakukan oleh Mulawarman dengan judul Penerapan SFBT untuk meningkatkan harga diri siswa (self esteem) suatu embedded experimental design. Hasil penelitian dilihat dari hasil secara kuantitatif ditemukan perbedaan tingkat self esteem siswa sebelum mendapatkan intervensi SFBT dengan menggunakan Wilcoxon signed rank test, dimana nilai tersebut adalah 2, 207. Pada sisi kualitatif dengan berdasarkan pada hasil analisis percakapan ditemukan bahwa harga diri rendah berubah menjadi harga diri tinggi.

  1. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
1.      KELEBIHAN
a.       Pendekatan  ini menekankan pada singkatnya waktu konseling
b.      Pendekatan ini fleksibel dan mempunyai banyak riset yang membuktikan keefektifannya
c.       Pendekatan ini bersifat positif untuk digunakan dengan konseli yang berbeda-beda. Maksudnya, teori konseing ini didasarkan pada asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi dalam meningkatkan kualitas hidup mereka dengan optimal.
d.      Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran yang menekankan perubahan kecil pada tingkah laku
e.       Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan konseling lainnya
2.      KELEMAHAN
a.       Pendekatan ini hampir tidak memperhatikan riwayat konseli
b.      Pendekatan ini kurang memfokuskan pencerahan
c.       Pendekatan  ini menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi, sehingga membuat perawatan ini mahal

  1. SUMBER RUJUKAN
Corey, Gerald. 2009.Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy Eigh Edition. USA: Thomson Higher education
Palmer, Stephen. 2011.  Introduction to Counselling and Psychotherapy (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gladding, Samuel T. 2012. Counseling a Comprehensive Profession, sixth edition (terjemahan). Jakarta Barat: PT Indeks

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Design Blog, Make Online Money